Tag

, , ,


Aku telah berdusta jika kuberkata ini valentine kelabu, aku bodoh kalau aku bilang ini valentine menyebalkan. Masalah yang datang bertubi-tubi bahkan menjadikan hari ini menjadi semakin berkesan. Senyumanmu yang meneduhkan hatiku dan menentramkan jiwaku membuat hati yang penuh duka menjadi ceria. Andai hari ini aku tak melepaskan waktu bersamamu, andai detik ini tak kusaksikan senyummu …… Aku mungkin tak bisa bernafas, dadaku akan terasa sesak dengan persoalan-persoalan yang menyumpal di jantungku. Nadiku akan berhenti berdenyut karena aliran darahku tersumbat dengan masalah-masalah. Aku tak sanggup lagi berkata betapa aku membutuhkanmu, setiap saat dan setiap waktu. Kau adalah nafasku, kau adalah…… Sudahlah aku tak ingin tulisan ini penuh rayuan murahan yang terucap tanpa makna. Sepertinya aku pun tak perlu banyak menggombal, yang kaubutuhkan adalah kasih murni yang mengalir dari mata air hati. Begitupun aku membutuhkanmu sekarang, nanti, atau kapanpun.

Kita telah menghadapinya, masalah ini dan persoalan itu. Jadi kurasa tak ada yang perlu ditakutkan, aku takkan menyerah sampai benar-benar Tuhan yang berkata kita tak boleh bersatu. Aku masih yakin kau dan aku tetap sayang satu sama lain, tentu tak perlu kau katakan itu padaku. Pelukan itu mengungkapkan semuanya, kecupan itu pun menyatakannya. Aku pun percaya bahwa akhir yang bahagia tentu melewati banyak rintangan. Hanya ketegaran yang akan membawa kita melalui cobaan demi cobaan, yang akan menjadi sampan dalam mengarungi lautan persoalan. Setiap nafasmu selalu menyertai langkahku, setiap doamu adalah penerang gelap malamku dan kehadiranmu akan mewujudkan semua impian ini.

Aku bukanlah yang terbaik, aku tak bisa berikan semua yang kau ingin tapi yang terbaiklah kulakukan untukmu. Meski terasa berat aku bisa membuatmu bersinar disaat aku merasa padam. Saatnya kita wujudkan janji yang telah kita ikrarkan, karena hanya dengan mimpi dan pengorbanan segalanya akan terjadi. Demi aku, demi kau, demi kita. Valentine, 14 Februari 2006.